Rabu, 23 Desember 2009

Frau Music Performance From Yogyakarta: A Girl On The Run



Jogjakarta, 14 Mei 2009
"A Girl On The Run" adalah sebuah pertunjukan musik dari Frau, seorang solo pianis muda yang bernaung dibawah asuhan label Music Box Records. Acara ini akan dilaksanakan Music Box Records di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis di daerah Sagan, Yogyakarta. Pertunjukannya sendiri akan disuguhkan dua kali pada hari Jumat tanggal 22 Mei 2009, yaitu pukul 19.00-20.00 untuk pertunjukan pertama dan dilanjutkan pada pukul 20.30-21.30 untuk pertunjukan kedua. Tiap pertunjukan disediakan 150 kursi dengan tiket Rp10000 untuk tiap kursinya.

Acara yang digagas oleh Timoteus Anggawan Kusno(pimpinan produksi pertunjukan & art director Music Box records) dan Nicodemus Freddy Hadiyanto (kurator musik Music Box records) ini berangat dari ide besar untuk mengangkat sebuah persinggungan unik antara seni pertunjukan, seni rupa, dan seni musik dalam sebuah pertunjukan musik pop. Gagasan tersebut kemudian direspon baik oleh beberapa rekan seniman yang kemudian bergabung menjadi tim artistik acara ini, yaitu Teguh Hari, Andy Seno Aji, dan Jamaludin Latief (Teater Garasi).

"A Girl On The Run" adalah sebuah pertunjukan musik yang akan bercerita tentang anak muda di tengah dunia yang bergerak. Seorang gadis yang berada di tengah-tengah lingkungan yang terus berubah dan dinamis. Seorang gadis yang memiliki imajinasi-imajinasi unik bersama pianonya sebagai tempatnya berlari dan menemukan dirinya di tengah dunia yang tak pernah berhenti bergerak. Dengan cara bertutur yang unik melalui musik ini Frau sebenarnya ingin menawarkan sebuah kondisi kehangatan, sebuah relaksasi. Seperti sebuah ajakan dari seorang kawan lama untuk berbincang santai sambil minum teh.

Pertunjukan musik pop ini akan menyuguhkan sebuah proses kolaborasi unik antara Frau (musisi), Bengkel mime (pantomim), dan bentuk-bentuk seni visual yang dirancang dinamis di atas panggung sebagai serangkaian set artistik. Dalam pertunjukan ini, Frau akan memainkan lagu-lagu dari album "Starlit Carousel"-nya. Layaknya sebuah pertunjukan teatrikal, pertunjukan musik ini memang dikemas cukup unik dengan alur, pembabakan, dan dramaturgi yang berangkat dari lagu-lagu dan lirik Frau. Skenario yang disusun berangkat dari komposisi musik dan lirik yang dinyanyikan, menceritakan tentang anak muda di tengah dunia yang bergerak. Sedangkan pembabakan yang ditawarkan akan berangkat dari lagu-lagu yang telah disusun sebagai sebuah alur cerita. Berangkat dari lirik dan musikalisasi tersebut, Bengkel mime akan merespon secara koreografis terhadap musik. Elemen-elemen artistik yang membangun pertunjukan ini juga akan merespon musik secara koreografis sesuai konsep, mood, dan ide cerita lagu.

Dalam salah satu sesi di pertunjukan ini, Frau juga akan berkolaborasi dengan seorang pianis wanita lain, yaitu Nadya Octaria Hatta, dan sang ibunda, Joan Suyenaga, yang akan bermain rebab (alat musik tradisional jawa). Pertunjukan ini akan dibuka oleh Armada Racun (Yogyakarta) dan The Trees and The Wild (Jakarta), yang akan bermain musik secara akustik di pelataran luar Lembaga Indonesia Perancis sebelum pintu ruang pertunjukan "A Girl On The Run" di buka di tiap jadwal.

Sabtu, 24 Januari 2009

Celotehan tentang Musik



Sedikit ocehan tentang musik….

Semakin hari semakin banyak band-band berbagi genre musik di tanah air. Khususnya genre musik populer atau musik pop yang merupakan hasil pop culture, yang dikatagorikan sebagai musik dangkal, instan. Juga bisa dianggap sebagai low art.
Banyak hal mengapa musik pop ini dikatagorikan demikian. Coba kita pandang dari segi lirik yang gampang dihafal oleh si pendengar walaupun sekali saja mendengarkannya dan kurangnya nilai estetis dan estetika, yaitu sastra dan moralnya. Dari segi performancenya mereka terkadang tidak pernah menemukan jati diri mereka sendiri, mereka cenderung meniru dari genre musik lain ( terbilang kurang kreatif dan inovatif untuk membuatnya). hal itulah penyebab kekacauan genre musik dalam sejarah musik itu sendiri. karena dari genre musik pop sendiri sangat berbeda dengan genre musik yang lainnya contohnya saja pada genre musik yang dikatagorikan sebagai high art, misalnya saja pada genre musik jazz yang biasanya menampilkan bolero kemeja jas, blues dengan Rock&Rollnya dan genre musik psychedelic.
Maraknya budaya Musik pop culture tersebut mebuat makin membosankan, tetapi ada satu band yang single Hitsnya bisa membuatku nyenyak, meski sering kali ketika alunan itu kurenungi aku malah terkoyak. Band asal bandung ini memang masih konsisten di indielabel, band ini banyak memikat kaum-kaum psychedelic di Negeri ini, single Hitsnya “langkah peri” yang begitu NgeSOUL abiz, yang agak rada-rada psychodelic dengan ditambah distorsi gitar rada-rada heavy pop dengan melodi-melodi soul banget, apalagi suara si vokalisnya {Alexsandra} yang sekarang keluar karena perbedaan faham.. Singgel-singgel Hits seperti “Dunia” dan “Langkah Peri” pada album terdahulu “Waktu hijau dulu” selalu diminati oleh penonton.
Dengar-dengar kabar katanya beberapa tahun lalu mereka telah membuat album baru yang dirilis oleh sebuah indie label dari kota bandung sendiri, meskipun alexsandra tak lagi jadi vokalis band ini lagi tetapi suara vokalis baru tidak merubah irama musiknya seperti dahulu. Lembutnya suara vokalis baru, distorsi gitar denagn lengkingan melodi pop disertai bas dan hentakan drum masih sakit seperti dahulu. Hal ini yang masih diminati oleh pecinta musik genre psychedelic.
11 07 2007

Sabtu, 17 Januari 2009

Musik Kesukaanku

Cherry Bombshell

http://photos-p.friendster.com/photos/61/14/39364116/1_636968230l.jpg
Cherry Bombshell adalah nama dari grup sebuah band anak muda yang berasal dari Bandung, yang banyak orang bilang sebagai gudangnya para musisi. Cherry Bombshell sepakat didirikan oleh 4 anak muda Bandung yang berselera musik sama pada tahun 1995, tepatnya tanggal 15 Juni. Nama Cherry Bombshell diambil dari jenis warna cat rambut, yang secara tak sengaja mereka baca dari majalah Seventeen, yang sedang membahas warna cat rambut idola mereka yaitu vokalis kelompok Lush asal Inggris yang berambut merah, istilahnya Cherry Bombshell.

Dengan nama Cherry Bombshell keempat personelnya yaitu Agung Pramudya Wijaya (bass), Harry Hidayatullah (gitar), Ismail Rahaji (gitar), dan Mochammad Febry Syarif (drum) coba-coba membawakan lagu Lush, Pale Saint, Velocity Girl, dan Revolver (semuanya band Inggris). Mereka juga coba-coba untuk membuat lagu. Setelah jalan beberapa lama, Cherry Bombshell bertemu dengan sang penyanyi, yaitu Alexandra (Alex). Dengan adanya Alex, lengkap sudah formasi Cherry Bombshell. Mereka lalu merekam lagu-lagu yang telah dibuat. Untuk pertama kalinya Cherry Bombshell show di Jakarta dan telah berani membawakan lagu-lagunya sendiri (dulu nama grupnya masih Lolypop).

Dari hasil show dan tambahan dana seadanya, Cherry Bombshell bertekad membuat demo tape (mini album) yang berisi 6 buah lagu. Cherry Bombshell langsung memasarkannya dari tangan ke tangan dan dan menitip jual di beberapa studio musik dan habis terjual diatas 500 buah kaset. Dengan keluarnya demo tape tersebut, nama dan lagu Cherry Bombshell mulai dikenal sampai keluar kota Bandung. Dengan bekal demo tape tersebut, jalan menuju dapur rekaman untuk membuat album semakin terbuka. Melalui sebuah agen (Target Pro), Cherry Bombshell berkenalan dengan Bulletin Record (PT. Indosemar Sakti). Dengan Bulletin, Cherry Bombshell membuat perjanjian untuk merilis dua buah album. Namun sayang, sebelum album perdana dirilis, Alexandra harus meneruskan pendidikannya di Hongkong. Kedudukan Alexandra lalu digantikan oleh Widyastuti Ariani (Widy).

Setelah melalui perjalanan panjang akhirnya Album pertama Cherry Bombshell beredar dengan judul album "Waktu Hijau Dulu". Album perdana Cherry Bombshell Berisi 12 buah lagu dengan lagu andalan berjudul "Langkah Peri" (yang dibuat video klip). Dengan aliran musik "Heavy Pop", lagu-lagu Cherry Bombshell berjudul Anti Adas, Langkah Peri, Lahar, Bacar, Flowing Marjans, Tuduh, Memar, Kura-Kura Dalam Perahu, Sesal, Bintang, Lepas, dan Waktu Hijau Dulu.

Pada tahun 2000 Cherry Bombshell telah melempar album yang ke-2 ke pasaran. Namun ada nafas baru dalam album baru CB ini, karena posisi Ebi sebagai pemukul drum digantikan oleh Wisnu Kuncoro Djati (Coro). Pada beberapa saat lalu Ebi mengalami kecelakaan, dan kini keadaanya sudah baik. Namun Ebi merasa bahwa kemampuannya dalam mengimbangi CB tidak seperti dahulu ketika sebelum mengalami kecelakaan. Untuk itu Ebi mengundurkan diri untuk keluar. Album CB ini berjudul "Luka Yang Dalam". Dalam Album ke 2 terdapat lagu- lagu yang berjudul : Biar, luka, Hujan, Susan, Mentari, Dunia, Rapuh, Harap, Terhempas Hilang, dan Mati Rasa.

Bulan Mei 2005 Cherry Bombshell meluncurkan Album ke-3 yang diberi judul "Jalan Masih Panjang" dibawah label indie BACOTT Records. Ada 10 lagu dalam album ini, Dengan judul-judul lagu : Kesepian Semu, Satu di antara Seribu, Cahaya di dalam Jiwa, Awan Hitam menyelimuti, Jalan Masih Panjang, Purnama Kelam, Mengenang Masa, Ku Takkan tenggelam, Mengejar Angin, dan Bintang Terang.

Untuk di album ke-3 ada pengurangan dan perubahan formasi personel tetap dari Cherry Bombshell, hal ini karena Ajo, Widi, Ajie dan Coro telah keluar dari Cherry Bombshell. Formasi tetap Cherry Bombshell yang sekarang yaitu : Agung Pecunk (Bass), Esti (Vokal), Arief (Drum), Remy (Guitar) dan Egi (Guitar).

Di album ke-3 ini juga Cherry Bombshell dibantu oleh beberapa musisi seperti Suar (eks Vokalis Pure Saturday), Indra Mocca dan Ajie The Milo (eks Cherry Bombshell) serta beberapa musisi lain untuk mengisi lagu-lagu yang terdapat di album ini.

Pada tahun 2007 Cherry Bombshell membawakan lagu "Jauh" (Tribute to Naif) di album Mesin Waktu, Aksara Record.